![]() |
| Sumber |
Sebagaimana aku, seorang suami yang memiliki seorang isteri yang sesuai ekspektasiku cantik, baik dan cerdas. Namun aku sering merasa sepi terlebih ketika isteriku tidak dalam keadaan moody.
Proses awal perkenalan kami hingga pacaran dan menikah sangat dramatis, jauh lebih dramatis daripada kisah Romeo dan Juliet.
Awal-awal pernikahan begitu indah, dia adalah wanita yang manis, manja serta lemah lembut. Akupun begitu menyayanginya sangat, kepadanyalah kugadaikan hidup dan mimpiku hingga bahkan aku tak tahu apa lagi kebutuhanku selain hidup bersamanya.
Namun perjalanan hidup penuh dinamika, proses kehidupan tidak sesederhana kisah novel Romeo dan Juliet. Ada babak dimana seketika kau harus mengambil keputusan penting, ada skenario dimana kejujuranmu diuji, ada bab kau harus membiarkan masalalu menghantammu hingga tersungkur lalu berusaha untuk mengumpulkan tenaga agar bisa bangkit lagi. Dan yang paling menentukan kau harus percaya kau bisa menjalaninya bersama pasanganmu dalam keadaan apapun.
Semua itu sudah dan sedang kulalui bersama seorang pribadi yang hadir dalam pertengahan hidupku. Perjuanganku untuk memahami pribadi dan karakteristiknya jauh lebih berat daripada babak-babak kehidupanku yang tidak mulus.
Proses pemahamanku demi mempertahankan rumah tangga ini membuatku menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya, disinilah aku benar-benar mempraktekkan bagaimana menjadi:
1. Bijaksana
Isteriku adalah wanita cerdas yang mandiri, dia bisa memiliki kemampuan secara finansial jauh melebihiku. Dengan kecerdasannya dia bisa berlaku seperti Midas segala yang disentuhnya bisa menjadi emas. Tentu egoku sebagai suami diuji bahwa dalam pandangan umum yang berperan utama sebagai penanggung jawab finansial keluarga adalah Suami. Namun demi mendukung usaha yang dilakukannya aku harus berhenti dari pekerjaanku berikut mengubur dalam-dalam mimpi dan karierku. Tidak jarang orang mencibir jenis suami sepertiku, apalagi kadangkala ketika ada percekcokan dengan isteri masalah seperti ini menjadi sensitif. Saat seperti inilah kebijaksanaanku harus ku-utamakan dibanding egoku demi mempertahankan eksistensi sebagai suami pada umumnya.
2. Sabar
Kesabaran itu ibarat tali karet memiliki elastisitas besar namun bisa putus bila kelebihan beban. Sering sekali ketika aku sedang asyik mengerjakan sesuatu isteriku meminta sesuatu dan aku harus segera merespon, ketika hal itu tidak kulakukan dia bisa marah dan tak jarang melontarkan kata-kata yang membuatku tersinggung. Bila aku memprotesnya maka justeru aku yang disalahkan karena tidak perhatian lagi padanya dan lebih mementingkan perasaanku. Kembali lagi aku harus lebih bijak dan sabar untuk menghadapinya.
3. Perhatian
Wanita pada umumnya adalah mahluk sensitif, perasaan mereka jauh lebih berperan dibanding logikanya. Ketika aku telat memuji parasnya dia bisa protes, saat aku tidak memberi skor pada masakannya dia ngambek, kalau aku tidak bertanya tentang apa yang dia inginkan dia uring-uringan. Memang ku akui sebagai lelaki sepertiku dan mungkin kebanyakan diluar sana tak semua hal yang ada dipikiran kita untuk disampaikan. Semisal ketika pada sudut tertentu memandang isteri kita dia kelihatan lebih cantik lantas kita hanya menyimpannya dalam hati daripada menyampaikannya. Saat kita makan masakannya dengan lahap kita tak mencoba bertanya apa bumbu yang dipakainya. Wanita memang begitu dia lebih memilih kata-kata yang didengar dari suaminya daripada siluet tatapan cinta yang dalam sang suami.
4. Pengertian
Aku termasuk suami yang beruntung karena isteriku hobi serta jago memasak. Sering sekali aku memilih untuk menahan lapar demi makan masakan isteriku dirumah ketimbang membeli makanan diluar. Namun kadang ada momen dimana isteriku sedang tidak mood memasak karena letih atau hal lainnya. Suatu ketika aku pulang dengan perut yang keroncongan lantas ketika aku kedapur tak sebutir nasipun tersedia. Akupun menantinya sampai dia menyelesaikan pekerjaannya, walau akhirnya aku harus menggoreng sendiri sebutir telur ayam plus menanak nasi sendiri. Bahkan pernah juga aku memutuskan untuk tidur dalam keadaan perut keroncongan. Aku pernah memprotes tindakannya yang berakibat dia memboikot untuk tidak membuat masakan hingga hampir seminggu. Kini aku memilih untuk lebih bijak, sabar dan mengerti bahwa dia pasti sedang letih.
Untuk sementara hal-hal inilah prestasiku sebagai seorang suami, ditulisan berikutnya pasti akan ku posting tentang bahagianya memiliki isteri.


0 komentar:
Posting Komentar