Lebih seabad yang lalu seorang penulis Inggris kelahiran Irlandia Oscar Wilde pernah menyatakan "Tak akan bahagia seorang laki-laki bila menikahi wanita yang dia cintai". Pernyataan ini sangat menggelitikku bagaimana mungkin kita tidak bahagia mendapatkan seorang wanita yang kita cintai dan hidup bersamanya.Kenyataan memang sulit dipahami ketika aku berhasil mendapatkan wanita yang selama ini kuidam-idamkan, dinamika yang terjadi dalam rumahtanggaku membuktikan bahwa pernikahan bukanlah hal yang sederhana.
Berbagi kehidupan dengan pribadi asing dimana karakter dan kebiasaan-kebiasaannya boleh jadi bertolakbelakang dengan kepribadian kita bukan hal yang mudah untuk dikompromikan. Masing-masing pribadi telah hidup bertahun-tahun dengan karakter dan kebiasaan yang dibawa sejak kecil harus beradaptasi dan bahkan mengubahnya dalam hitungan bulan dan atau beberapa tahun saja agar perbedaan kepribadian ini bisa mengadopsi kehidupan rumah tangga yang dikelola bersama dua pribadi berbeda tentu dipenuhi dengan berbagai dinamika yang riuh. Sehingga tidak berlebihan bila dalam suatu rumahtangga ada perdebatan dan pertengkaran.
Pertengkaran dalam rumah tangga tidak terlepas dari krisis eksistensi masing-masing pasangan, seorang isteri wajar menuntut untuk dinomorsatukan oleh pasangannya, disisi lain wajar pula sang suami menuntut respek dan perhatian si isteri. Banyak hal-hal kecil bisa berbuntut pertengkaran besar karena dipicu oleh masalah eksistensi.
Seorang isteri akan uring-uringan bila mengetahui suaminya menerima telepon atau sms dari wanita lain pada waktu tengah malam, padahal bisa jadi telepon itu adalah masalah penting yang berkaitan dengan pekerjaan. Begitu juga sang suami akan merasa kecewa bila melihat isterinya lebih asyik pesbukan didepan komputer daripada bercengkerama dengannya.
Sensifitas perasaan-perasaan ini akan lebih kuat ketika orang itu begitu mencintai pasangannya. Konsekuensi dari rasa cinta pada pasangan menyebabkan rasa takut kehilangan, takut ditolak, takut ditinggalkan dan rasa takut lain malah kerap diperparah dengan asumsi-asumsi yang bermain dalam otak masing-masing pasangan.
Akan berbeda kesannya bila salah satu atau malah masing-masing pasangan tidak memiliki rasa cinta satu sama lain. Kita tidak bisa menutup mata ada begitu banyak pernikahan tidak dilandasi rasa cinta seperti perjodohan yang telah diatur, pernikahan karena terpaksa apakah karena seseorang terlibat hutang, keyakinan agama tertentu, adat yang mengharuskan dan lainnya.
Pernikahan yang tidak dilandasi cinta cenderung memiliki kerentanan yang lebih kecil, karena ikatan emosional antara masing-masing pasangan tidak sekompleks pada pasangan yang saling mencintai. Rumahtangga yang tidak dilandasi cinta justeru memiliki ikatan yang lebih nyata yaitu Ikatan Perkawinan/Pernikahan itu sendiri. Rumahtangga tanpa landasan cinta kepada pasangan justeru akan memegang prinsip-prinsip umum rumahtangga lainnya. Suami dan atau isteri yang bekerja sebagai sumber finansial, bersenggama untuk mendapatkan keturunan, berinvestasi untuk pendidikan anak dan hari tua, aktif dalam kegiatan keluarga dan bertetangga yang mana semua itu dijalankan secara otomatis menurut kaidah-kaidah rumahtangga pada umumnya.
Beda halnya pada rumahtangga yang dilandasi cinta pada pasangan, untuk memiliki keturunan saja sang suami lebih berhati-hati terhadap kondisi kesehatan isteri, baik dari proses mengandung maupun melahirkan sebab proses itu memiliki resiko kematian yang tidak kecil. Dan lagi yang tak kalah penting adanya suatu keengganan untuk berbagi cinta dan kehidupan kepada pribadi lain (anak) ke dalam kehidupan pasangan ini.
Dari gambaran itu saja dapat terlihat suatu perbedaan yang kontras orientasi antara rumahtangga yang tidak berlandaskan cinta (konvensional) dengan rumah tangga yang berlandaskan cinta.
Dari perkara berhubungan sex dengan orang lain misalnya lagi, bagi kalangan rumahtangga konvensional hal tersebut cenderung merupakan pengkhianatan terhadap lembaga perkawinan daripada pengkhianatan pada pasangan. Toh pernikahan dibangun sekedar membentuk suatu rumah tangga, dimana selama siklus kegiatan rumahtangga tak terganggu menggauli orang lain diluar pernikahan itu adalah tindakan yang tidak berlebihan, disinilah celah bahwa poligami merupakan tindakan yang wajar.
Bagaimana bila hal ini terjadi dalam rumahtangga yang berdasarkan rasa cinta itu?
Menggauli oranglain selain pasangan yang kita cintai merupakan tindakan pengkhianatan terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki rasa cinta kepada pasangannya namun berbagi tubuh dan kenikmatan kepada orang lain diluar kekasihnya. Bila seseorang sanggup melakukan hal ini maka perlu dikoreksi rasa cinta yang dimilikinya.
Tentunya kita sama-sama mafhum begitu rumitnya sebuah rumahtangga yang dibangun oleh pasangan yang saling mencintai, begitu banyaknya terlibat perasaan-perasaan, justeru tidak adanya kewajiban yang ada hanya moral atau etik kepada pasangan. Dimana semua norma itu hanya menjadi nyata bila diimplementasikan bila tidak maka pupuslah lembaga pernikahan itu.
Jadi lebih bahagia mana hidup bersama dengan orang yang kita cintai atau hidup dengan sundal yang bisa melayani kita kapan saja?

0 komentar:
Posting Komentar